The Existence of Mandailing-Language Preaching as an Instrument for Strengthening Islamic Cultural Identity in Tamiang Village, Mandailing Natal Regency
Abstract
This study examines the existence of Mandailing-language preaching as an instrument for strengthening Islamic cultural identity in Tamiang Village, Kotanopan District, Mandailing Natal Regency. Language plays an important role in religious communication because it functions not only as a medium for conveying religious messages but also as a means of transmitting cultural and religious values in society. The use of local languages in da'wah activities is considered capable of strengthening emotional relationships between preachers and the congregation so that the message of Islam can be understood more easily. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving religious leaders, community leaders, and members of the congregation. The results show that Mandailing-language preaching still exists in several religious activities such as Friday sermons, religious lectures, recitations, and funeral gatherings. The use of Mandailing language makes religious messages feel closer to the community because it is the mother tongue used in everyday communication. However, the existence of Mandailing-language preaching currently faces challenges due to the influence of modernization and the increasing use of Indonesian among younger generations. Therefore, efforts are needed from religious leaders and the community to maintain the use of Mandailing language in religious preaching so that the Islamic cultural identity of the Mandailing community can continue to be preserved. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji eksistensi dakwah berbahasa Mandailing sebagai instrumen penguatan identitas budaya Islam di Kelurahan Tamiang, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal. Bahasa memiliki peran penting dalam komunikasi keagamaan karena tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampaian pesan, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai budaya dan keagamaan dalam masyarakat. Penggunaan bahasa daerah dalam kegiatan dakwah dapat memperkuat kedekatan emosional antara dai dan jamaah sehingga pesan dakwah lebih mudah dipahami. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jamaah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah berbahasa Mandailing masih digunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan seperti khutbah Jumat, pengajian, ceramah, dan kegiatan takziah. Bahasa Mandailing membuat pesan keagamaan terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat karena merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan dalam interaksi sosial. Namun demikian, eksistensi dakwah berbahasa Mandailing menghadapi tantangan akibat modernisasi dan meningkatnya penggunaan bahasa Indonesia di kalangan generasi muda. Oleh karena itu diperlukan strategi dari tokoh agama serta dukungan masyarakat untuk mempertahankan penggunaan bahasa Mandailing dalam kegiatan dakwah agar identitas budaya Islam masyarakat Mandailing tetap terjaga.References
Adha, A. R., Fikri, M. I., Lastu, S., & Fadiyah, N. (2023). Transformasi Dakwah Islam di Perdesaan: Antara Kearifan Lokal, Modernisasi, dan Perubahan Sosial. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 11(2). https://doi.org/10.36989/didaktik.v11i02.6646
Ashari, M. F., Dova, M. K., & Jaya, C. K. (2022). Komunikasi Dakwah Kultural di Era Digital. Journal of Da’wah, 3(2). https://doi.org/10.32939/jd.v3i2.4423
Bakri, S. (2021). Kebudayaan dan Identitas Keislaman Masyarakat Mandailing. Jurnal Studi Islam, 12(3).
Basri, H. R. (2021). Analisis Kritis Peran Dalihan Na Tolu dalam Adat Mandailing. Jurnal Hukum dan Keperdataan, 5(1).
Darussalam, F. I. (2023). Siri’ Na Pacce dan Identitas Kebudayaan. An-Nisa, 14(1).
Fathurrozi. (2023). Dakwah Kultural Sunan Kalijaga: Akulturasi Budaya Jawa dan Ajaran Islam. Jurnal Studi Islam dan Budaya.
Fitriono, E. N., Halisa, N., & Kaswajeng, M. (2021). Islam dan Budaya Lokal: Deskripsi Tradisi Masyarakat Kabupaten Nunukan. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat.
Habeahan, B. (2024). Pelestarian Bahasa Daerah sebagai Warisan Budaya dan Identitas Masyarakat. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Harahap, N. (2024). Analisis Makna Simbolik dalam Prosesi Tradisi Pernikahan Etnik Batak Mandailing. Jurnal Budaya Etnika, 8(1).
Harahap, R. B. (2023). Penggunaan Bahasa Mandailing dalam Komunikasi Keagamaan Masyarakat Tabagsel. Jurnal Komunikasi Islam.
Harahap, S. R. (2022). Eksistensi Nilai-Nilai Dakwah di Kalangan Generasi Z. Jurnal Multikultural & Dakwah, 9(2), 110–126.
Hata Andung dalam Budaya Mandailing: Kajian Historis dan Makna Sosial. (2026). Advances in Education Journal, 2(4), 315–321.
Hendra, T., Adzani, S. A. N., & Muslim, K. L. (2023). Dakwah Islam dan Kearifan Budaya Lokal. Journal of Da’wah, 2(1), 65–82. https://doi.org/10.32939/jd.v2i1.2660
Kezia, A. (2023). Bahasa Indonesia sebagai Identitas Nasional Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa.
Lubis, H. (2025). Wawancara tentang Dakwah Berbahasa Mandailing.
Maulidatun, N. (2023). Keterkaitan Bahasa, Masyarakat, dan Kebudayaan. Jurnal Bahasa dan Budaya.
Muhaemin, E., & Yunus, M. (2023). Dakwah Berbasis Kearifan Lokal dan Penggunaan Bahasa Daerah dalam Penyebaran Islam di Indonesia. Mimbar: Jurnal Ilmiah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Ningsih, S., & Puteri, J. (2021). Penguatan Penggunaan Bahasa Daerah Pada Generasi Muda Di Kelurahan Bintarore Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba. JOURNAL OF COMMUNITY SERVICES: Akademi Kebidanan Tahirah Al Baeti Bulukumba, 3(1).
Puspitasari, I., & Ultriasratri, A. (2023). Integration of Da’wah and Local Culture: An Analysis of the Ritual of Wiwit Mbako in Temanggung. Jurnal Dakwah, 24(2), 120–132. https://doi.org/10.14421/jd.2023.24202
Saing, S. A., Santoso, G., Jarmi, & Winarsih. (2023). Peran Budaya dan Bahasa dalam Membentuk Identitas Diri melalui Berkebinekaan Global dan Creativity di Kelas 5. Jupetra: Jurnal Pendidikan Transformatif, 2(4), 595–610.
Sari, M., & Haris, M. (2023). Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam dalam Pembentukan Karakter dan Etika Siswa di Tingkat Sekolah Dasar. Al-Mujahadah: Islamic Education Journal, 1(1).
Siregar, A., Yanti, D. D., Sipayung, D. V., Adani, M. I., Rianti, N. P., & Purnamasari, I. (2024). Pengaruh Globalisasi terhadap Identitas Budaya Lokal. Jurnal Intelek Insan Cendikia, 1(8).
Suriyati, Rama, B., Siraj, A., & Syamsudduha, S. (2023). Implementation of Integrated Quality Management Islamic Education in Madrasah Aliyah. Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Education, 4(1).
Wahyuni, R. (2019). Pola Komunikasi Dalihan Na Tolu pada Adat Pernikahan Etnik Mandailing di Kabupaten Mandailing Natal. Al-Balagh: Jurnal Komunikasi Islam, 3(2), 145–165.
Widiatmaka, P. (2022). Strategi Menjaga Eksistensi Kearifan Lokal sebagai Identitas Nasional di Era Disrupsi. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan.
Copyright (c) 2026 Safitriani Safitriani, Abdullah Abdullah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
